Minggu, 05 September 2010

HANCURNYA KAPITALISME: WHO AND WHAT NEXT?


Sebuah pertemuan bertema "Hancurnya Kapitalisme" yang diadakan oleh Institute for Policy Studies di Hotel Ambhara, Jakarta tgl 13 November 2008 berlangsung menarik. Empat panelis tampil memukau, masing-masing Amran Nasution, Dr. Iman Sugema, Dr. Hendri Saparini dan Fadli Zon.

Bung Amran Nasution yang kini menjadi pemimpin redaksi majalah Tani Merdeka memulai seminar dengan paparan berjudul "Menunggu Seorang Obama." Ia mengutip pendapat Professor Paul Krugman, Professor University of Princeton, Pemenang Nobel Ekonomi 2008 yang meyakini bahwa kemengan Obama adalah referendum terhadap filosofi politik rakyat Amerika yang ingin berubah dari pandangan Partai Republik yang konservatif diwakili oleh kubu John McCain ke pandangan Demokrat yang progressif yang diwakili oleh kubu Barack Obama.

Pihak konservatif sering dinilai berpihak kepada pengusaha elit kaya, kaum kapitalis. Sedang pihak progressif berpihak pada kalangan menengah bawah. Muncullah program seperti jaminan pemeliharaan kesehatan, pembebasan pajak bagi menengah ke bawah dan menaikkan pajak bagi yang kaya sebagai contoh kebijakan Obama yang didukung pemilih.

Dari pemaparan para pembicara dan peserta beberapa pendapat menarik mengemuka:
Pertama, kapitalisme telah mati, telah gagal. Pembicara mengutip David Rothkopf yang bersepakat dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang menyatakan bahwa sistem ekonomi pasar bebas (laissez-faire) telah berakhir. Dr. Iman Sugema buru-buru mengingatkan bahwa "Kapitalisme belum mati, ia bisa bangkit kembali dan mengoreksi diri."

Penanggap dari hadirin, juga memberikan pikiran yang beragam. Antara lain mengingatkan bahwa kapitalisme memiliki hal baik: China bangkit ketika mereka melakukan perubahan dari sistem komunis murni dan mempraktikkan prinsip kapitalis dalam ekonominya. Tapi kapitalisme yang bagaimana dulu? Kapitalisme yang produktif memang telah melahirkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi kemajuan. Sayang sekali, sekarang ini kapitalisme berubah wujud menjadi spekulatif dan manipulatif. Dan inilah sumber awal dari krisis dunia dan Indonesia terkena imbasnya saat ini. "Jika tidak bisa diatasi, apalagi jika dollar mencapai Rp 15 ribu, PHK terjadi terus, pengangguran mendera apa masih kita berharap akan ada pemilu 2009?" Tanya Ridwan Saidi.

Saya mengusukan tiga hal dalam seminar tsb: Pertama, sebaiknya pikiran cerdas, bernas dan brillian yang disampaikan oleh para panelis dan para peserta tidak hanya berakhir sebagai serpihan-serpihan pendapat dalam seminar tapi sebaiknya dihimpun menjadi sebuah usulan kebijakan. Seminar hari ini sebaiknya dilanjutkan dengan Focus Group Discussion.

Kedua, kita jangan hanya sibuk mendaftar dan menyampaikan apa yang tidak kita sukai tapi harus artikulatif menyusun, menyampaikan dan memperjuangkan apa yang kita inginkan. Kalau kita tidak ingin kapitalisme dan neo-liberal yang terbukti masih banyak kelemahan ini untuk mengacak-acak kepentingan nasional kita maka ayo kita rumuskan apa yang kita inginkan, kapan itu dicapai, siapa yang tepat memimpin mewujudkan harapan dan impian kita, lengkap dengan pemetaan bagaimana kondisi kita saat ini, kondisi bagaimana yang kita inginkan di masa depan, kendaraan apa dan berapa etape perjalanan yang harus kita ambil untuk mencapai tujuan dan target kita.

Ketiga, selain pembenahan di level analisis, mind-set dan idelogi juga serentak dengan itu kita harus memulai melakukan perbaikan di level praksis dan implementasi. Bagaimana meningkatkan pendapatan nelayan di negeri maritim yang luas ini. Bagaimana kita memetakan produk pertanian dan kebutuhan pangan dan energi kita. Bagaimana mengelola Sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya pendukung agar negeri makmur, maju, mandiri dan bermartabat.

Pertanyaan mendasar sebenarnya adalah kalau ideologi kapitalisme laissez-faire hancur lalu WHAT AND WHO NEXT? Saya teringat QS 7:34 (Al-A'raf): "Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun."

Jangan-jangan melalui krisis ini kita bisa melakukan berbagai langkah terobosan. Mengubah ideologi kapitalisme laissez-faire --yang menyebabkan yang kaya semakin kaya dan semakin sedikit orang; yang miskin semakin miskin dan semakin banyak-- ke ideologi yang membela kepentingan nasional kita sebagai bangsa yang berdaulat, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Bahkan, Harlison lebih menukik lagi meminta kita menggali dan menjalankan ajaran kitab suci agama kita.

Lalu WHO, atau siapa pemimpin kebangkitan peradaban baru? Saya mengajak kita meyakini, bahwa InsyaAllah jika kita membuat keputusan dan kebijakan yang tepat maka inilah awal Nusantara Jaya bisa bangkit bersama negara-negara Asia untuk memimpin peradaban." Kita memiliki modal dasar berupa sumber daya manusia terbesar keempat di dunia; sumber daya alam maritim, tambang, pertanian, kehutanan yang beraneka ragam; dan sumber daya pendukung yang memadai.

Yang kita perlukan saat ini adalah keberanian, visi dan impian bersama seluruh rakyat sebagai bangsa besar. Rasa syukur, percaya diri dan optimisme sebagai negeri yang diberkahi dengan keberlimpahan, dan rasa yakin bahwa kita ditakdirkan sebagai bangsa pemimpin, serta rasa persatuan dan senasib sebagai rakyat Negara merdeka. Juga diperlukan konsorsium pemimpin dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan yang sungguh-sungguh berpihak kepada rakyat dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok.

Dan berkaca pada pengalaman Obama, berpihak pada masyarakat menengah ke bawah ternyata bisa menang. Salam Nusantara Jaya 2045!

(www.marwahdaud.com - marwahdi@yahoo.com)

 




    Kirim Jurnal Ini ke Teman Anda



 


Bagi Anda yang belum mendaftar silahkan klik disini
Bagi anda yang sudah mendaftar silahkan masukan username dan pasword untuk login
Username
Password
Masukkan Teks yang tertera pada gambar:
This is a captcha-picture. It is used to prevent mass-access by robots. (see: www.captcha.net)



Forgot Your Password?
Forgot Your Login Details?



Lokasi Pengunjung Website ini
Yang sedang online : 1
Total hari ini : 2
Total Minggu ini : 26
Total Bulan ini : 10
Total Hit : 65777
Total Kunjungan : 21016

ip anda : 38.107.191.106

Statistik dimulai sejak :
5 Nov 2008